Jumat, 11 Mei 2012

Crossing MA Bisa Menguntungkan

Indikator Moving Average (MA) adalah indikator yang umum dipakai oleh para trader dunia. Bahkan banyak sistem trading menggunakan indikator Moving Average sebagai acuannya. Salah satu sistem yang sudah lama diterapkan adalah sistem Crossing MA.

Crossing MA atau perpotongan antara 2 MA atau lebih dapat memberikan sinyal masuk untuk membuka posisi beli atau jual. Memang Moving Average adalah indikator lagging atau indikator yang terlambat, akan tetapi bila Kita gabungkan dengan indikator lain justru dapat memberi sinyal yang bagus.
 
Pada artikel ini, Kita memakai Moving Average periode 4 exponential dan periode 20 exponential. Kita kombinasikan penggunaannya dengan MACD 12,26,9 yang umum dipakai. Sebelumnya, mari Kita analisa grafik EURUSD 30 menit berikut ini:



Aturan dari sistem ini adalah sinyal beli terjadi jika MA 4 baru memotong ke atas MA 20 dan histogram MACD berada di atas garis 0 dan garis signal. Sementara sinyal jual terjadi jika MA 4 baru memotong ke bawah MA 20 dan histogram MACD berada di bawah garis 0 dan garis signal.
 
Pada grafik 2 di bawah ini, terjadi crossing antara MA 4 dengan MA 20 ke arah atas, tetapi pada MACD belum terlihat histogram berada di atas garis signal dan nol. Baru pada batang ke-tiga setelah perpotongan terjadi, histogram MACD berada di atas garis signal dan nol. Pada saat itu, Kita dapat membuka posisi beli dengan target profit pada resisten terdekat dan stop loss jika harga kembali memotong dan tutup di bawah MA 20.


   





Sementara untuk sinyal jual, Kita perhatikan grafik 3, harus terjadi perpotongan MA 4 terhadap MA 20 ke arah bawah dan histogram sebaiknya berada di bawah garis signal dan nol. Pada grafik 3, batang ke-8 setelah terjadi perpotongan, baru Kita bisa membuka posisi jual. Target profit kita siapkan pada support terdekat dan lakukan stop loss  jika harga kembali menembus dan tutup di atas MA 20.

 
Meski sistem ini cukup sederhana untuk dijalankan, tetapi cukup berpotensi menghasilkan keuntungan dalam trading. Melalui latihan serta pengamatan yang kontinyu dan konsisten, Kita akan terbiasa menggunakan sistem ini dengan target profit dan stop loss yang diharapkan.

Minimalisasi Kerugian via Stop Loss Order

Apakah Anda pernah menggunakan stop loss order dalam trading? Para trader, terutama yang baru memulai trading sering kali enggan memakai perintah ini. Stop loss order lazim diartikan sebagai langkah penghilang kesempatan untuk meraup profit maksimal. Banyak trader pemula cenderung menyalahkan stop loss order ketika gagal meraih profit optimal, benarkah demikian?
Memang benar bahwa stop loss order dapat membatasi optimalisasi profit. Tetapi coba Anda bayangkan bila trading tanpa menggunakan stop loss order. Saat mendapati posisi trading Anda tidak sejalan dengan arah pasar, potensi kerugian akan jauh lebih besar jika Anda tidak menggunakan stop loss order.

Trader biasanya baru bertindak ketika jumlah kerugian sudah terlalu besar. Dengan berasumsi bahwa dirinya telah merugi terlalu besar, trader cenderung memutuskan untung tidak melakukan cut pada saat itu. Langkah tersebut sama dengan membiarkan trading mengalir berdasarkan harapan bahwa harga akan berbalik, harga tidak meluncur lebih jauh dan kerugian bisa tertutup. Menyerahkan langkah eksekusi pada pada diri sendiri tanpa disertai stop loss order bisa menyebabkan nilai account turun drastis

Stop loss order dapat membiarkan Anda tetap memegang kendali atas aktifitas trading. Kerugian bisa dihentikan sebelum jumlahnya bertambah besar. Perintah ini juga dapat mengunci keuntungan trading yang sudah di depan mata, atau sering disebut dengan trailing stop. Dengan kata lain, perintah penghentian potensi kerugian akan sangat membantu dalam menjaga nilai modal. Tujuannya adalah agar Anda tetap mempunyai kesempatan untuk membukukan profit di kemudian hari. Tentu dengan rasio yang lebih besar dibandingkan kerugian terdahulu.

Tidak hanya itu, stop loss order  berfungsi untuk membebaskan trader dari aktifitas pengamatan grafik atau posisi secara non-stop setiap hari. Cukup dengan memasang stop loss order di awal trading, Anda dapat tetap melakukan aktifitas lain pada jangka waktu tertentu. Kemudahan ini berguna untuk melepaskan pikiran Anda dari potensi stress, sehingga Anda dapat menghasilkan keputusan jernih pada trading selanjutnya.
Beberapa cara mengimplementasikan stop loss order adalah sebagai berikut:

1.    Stop dengan Equity
Anda bisa menempatkan stop loss order  berdasarkan persentase penurunan total equity. Bagi trader konservatif, persentase bisa sebesar 2% atau maximum 5% dari total equity. Contoh: Anda memiliki total dana $1000 dalam account. Anda tetapkan stop loss order 2% dari $1000. Jadi, apabila dana Anda berkurang jadi $980, trading langsung berhenti saat itu juga.
Meskipun demikian, cara stop loss  ini memiliki kelemahan, yaitu sifatnya tidak fleksibel atau statis. Walaupun berdasarkan analisa Anda, harga dapat kembali lagi sesuai arah posisi semula, stop loss order ini otomatis menghentikannya.
Sementara keuntungan dari stop loss jenis ini adalah untuk memberi kriteria jelas mengenai posisi tepat untuk memasang stop loss order.

2.    Stop dengan Grafik
Dengan mengacu pada grafik, Anda tidak memasang stop loss order berdasarkan titik harga tertentu dengan besaran nilai stop sama. Penempatan stop loss mempertimbangkan titik harga yang diberikan oleh analisa grafik. Stop loss ini bersifat dinamis, contoh: Anda bisa memasang stop loss order berdasarkan level Fibonacci, level support atau resisten. Terlihat divergence pada indikator MACD, perpotongan garis-garis MA dan sebagainya.
Kelemahan stop loss  ini terletak pada besaran nilai stop loss yang tidak sama atau lebih besar dari keinginan Anda. Di samping terdapat kemungkinan trading tidak langsung terhenti ketika grafik sudah menunjukkan bahwa Anda harus keluar, seperti saat Anda menggunakan stop dengan equity.
Akan tetapi, stop loss dengan grafik tebilang lebih fleksibel dan terpercaya karena menyesuaikan dengan pergerakan harga dan volatilitas pasar.

3.    Stop dengan Margin
Sebenarnya stop dengan margin ini bukanlah stop loss order. Namun membiarkan seluruh dana yang kita miliki dalam account membatasi kerugian trading Anda. Bila Anda memiliki $1000 di dalam account, maka trading akan terhenti saat $1000 habis atau terkena margin call.
Stop jenis ini mencerminkan ketidakdisiplinan trader yang melakukan trading berdasarkan harapan semata.

4.    Stop dengan Data/Kejadian Penting
Lazimnya, stop jenis ini dilakukan oleh trader yang sangat mengerti fundamental ekonomi, dapat memahami pengaruh suatu data/kejadian terhadap pergerakan mata uang atau indeks saham ke depannya. Contoh: pengaruh krisis hutang di Eropa akan mendepresiasi nilai Euro terhadap Dollar AS. Trader akan melakukan sell EURUSD dan menentukan stop jika ada konfirmasi, pernyataan atau tindakan dari otoritas terkait bahwa Eropa sudah aman dari krisis tersebut.

Para trader dapat menyesuaikan penggunaan stop loss order dengan kondisi psikologis masing-masing serta sistem trading dan manajemen resiko yang digunakan. Pertimbangkan stop loss order sebagai asuransi proteksi trading Anda. Penerapan dengan disiplin tinggi menjadi kuncinya!

No Plan No Gain

Salah satu kunci kesuksesan trading tak lain adalah konsistensi dalam menjalankan rencana investasi. Layaknya sebuah bisnis konvensional, seorang trader harus terlebih dahulu menerjemahkan tujuan utama. Business plan pada umumnya mencakup strategi jitu, target market yang jelas, kalkulasi biaya dan probabilitas keberhasilan. Ketika rencana awal tidak berjalan sempurna, ada baiknya untuk merancang plan B agar tujuan bisnis tidak berhenti.
Bayangkan bila Anda memulai bisnis tanpa rencana yang tersusun rapi, bagaimanakah hasilnya?

Banyak trader menjalankan trading dengan hanya mengandalkan feeling, rumor atau bahkan spekulasi semata. Tipikal trader seperti ini meyakini bahwa pasar mengarah pada trend tertentu tanpa dilandasi oleh sistem trading yang jelas. Aksi trading dengan cara demikian tetap dapat menghasilkan keuntungan, tapi pasti tidak akan bertahan lama.

Demi meraih hasil yang optimal di pasar keuangan, ada baiknya Anda mulai membuat rencana matang. Masterplan ini nantinya akan menjadi panduan bagi seluruh aktifitas trading Anda di lantai bursa. Sehingga segala tindakan transaksi tidak akan keluar dari jalur yang ditetapkan.
Salah satu anggota grup Turtle Trader, Curtis M. Faith, menekankan pentingnya perencanaan trading ke dalam sebuah buku berjudul Way of the Turtle. Pada literatur tersebut, sang legenda pasar berjangka membagi trading plan ke dalam 6 komponen utama, yakni:

Pasar: Instrumen yang akan diperjual belikan
Keputusan pertama adalah menentukan di pasar mana Kita akan trading, misalnya: GBP/USD, XAU/USD, hk_hkk50 dan sebagainya. Pilihlah pasar yang karakternya sesuai dengan sistem trading Kita.

Jumlah Posisi: Besaran lot yang akan diperjual belikan
Jumlah lot menentukan manajemen resiko dengan mentoleransi besaran resiko yang bisa Kita terima.

Titik masuk: Waktu yang tepat untuk membuka posisi beli atau jual
Titik masuk ditentukan oleh sinyal dari sistem trading yang kita jalankan.

Stop: Waktu yang tepat untuk keluar dari posisi rugi
Titik keluar dari pasar ketika merugi menentukan eksistensi Anda selanjutnya. Lakukan Stop sebelum kita membuka posisi lagi, hal ini penting untuk menjaga Anda tetap berada di pasar.

Exit:Waktu yang tepat untuk keluar dari posisi untung
Titik keluar ketika telah meraup keuntungan bisa mencegah Anda kehilangan profit di depan mata.

Sebelum membuat rencana trading, Anda harus menentukan sistem trading yang akan dipakai. Misalnya dengan menggunakan sistem breakout, kombinasi antara stochastic dan MA, ataupun mengkolaborasikan Fibonacci bersama MACD dan lain sebagainya. Sistem trading tersebut akan memberi gambaran bagi Anda untuk membuka dan menutup posisi, menambah jumlah lot dan seterusnya. Dengan berpedoman pada sistem trading, Anda dapat membuat rencana trading yang baik sekaligus handal.

Jangan lupa untuk tetap konsisten menjalankan rencana awal. Lakukan evaluasi secara periodik hingga mencapai keuntungan optimal. Selamat Mencoba!