Selasa, 15 Maret 2011

Optimisme di Tengah Bencana Nelangsa

Tatanan perekonomian dunia kian tidak stabil setelah Jepang dilanda gempa bumi masif serta tsunami tinggi. Situasi kian diperburuk oleh bocornya fasilitas nuklir di wilayah Fukushima. Tidak hanya bursa saham yang bergejolak, pasar forex dan komoditi juga menjadi rapuh. Tak heran, kecemasan akan datangnya resesi di negara perekonomian terbesar ke-dua Asia makin jelas. Meski demikian, pemerintahan Naoto Kan optimis negeri samurai mempunyai fundamen ekonomi kuat.

Angka korban jiwa sebanyak 2000 tampaknya bukan merupakan konfimasi final. Masih banyak nyawa tak berdaya dan kerugian materil yang belum dihitung. Lalu, bagaimanakah prospek ekonomi Jepang selanjutnya?

Beberapa analis berikut membagi pandangannya terkait situasi terkini di Tokyo dan sekitarnya, yang Kami rangkum dari berbagai sumber:

1. David Rea, Capital Economics

"Pasar harus lebih mencermati dampak apa saja yang diakibatkan oleh bencana ini."

Lembaga riset ekonomi makro ini memandang bencana alam pekan lalu tidak hanya merupakan tragedi kemanusiaan. Lebih jauh lagi, efek dari peristiwa tersebut bisa lebih signifikan. Investor harus benar-benar memperhitungkan imbasnya bagi sektor finansial.

"Potensi anjloknya ekonomi Jepang pada kuartal I mencapai sekitar 95%."

Walaupun gempa datang di sisa waktu 3 pekan menuju akhir Q3, dampaknya akan sangat terasa pada beberapa indikator ekonomi penting. Komponen ekonomi yang Ia maksud antara lain GDP dan aktivitas ekonomi lebih luas. Bahkan stagnasi lebih parah bisa terjadi pada kuartal II. rea menambahkan bahwa berlanjutnya radiasi nuklir bisa memutus rantai pasokan barang produksi antar wilayah.


2. Mark Zandi, Chief Economist Moody's Analytics

"Beberapa bagian dari negara Jepang akan jadi kota mati dalam beberapa pekan ke depan."

Beberapa eksportir besar, seperti Toyota Motor (TM), Honda Motor (HMC), Nissan (NSANY) serta Sony (SNE) menutup beberapa pabrik utama hari Senin (14/03). Meski ada plant  yang tidak mengalami kerusakan fisik, putusnya aliran listrik sangat menghambat produksi.

3. Sherry Cooper, Chief Economist BMO Financial Group

"Semua dampak akan terlihat pada laporan GDP."

Oleh karena itu, pelaku pasar akan sangat memperhatikan hasil data GDP beberapa bulan, bahkan kuartal ke depan. Apalagi lembaga riset kerugian AIR Worldwide baru saja memberi estimasi loss antara $15 hingga $35 miliar. Beberapa lembaga lain justru berani memancang ekspektasi kerugian sampai $100 miliar. Apabila mengacu pada pendapat berbagai kalangan, memang sulit mengukur variabel yang berpeluang menumbuhkan optimisme global. 

Nikkei Kritis

Nikkei merosot ke titik terendah yang terakhir kali dicapai pada Maret 2009, pada level 7915. Tepat dua tahun lalu, Nikkei terakhir kali menikmati pergerakan di bawah 8000.
Ledakan yang terjadi pada reaktor nuklir No. 4 di komplek Daiichi, Fukushima telah menyebabkan saham-saham anjlok dan memicu kepanikan pasar. Osaka Securities Exchange (OSE) bahkan sempat di-suspend akibat diterjang aksi jual besar-besaran pasca merebak kabar meledaknya Tokyo Electric Power,di Fukushima. Kabar terkahir menyebut radiasi mulai menyebar ke reaktor nuklir No. 3.
"Untuk saat ini, pasar hanya bisa menunggu perkembangan dari penangangan reaktor tenaga nuklir," ujar Yutaka Miura, Analis Teknikal Senior Mizuho Securities. Perdagangan kontrak akan kembali dihentikan jika indeks terus merosot ke level 7,780.

Nikkei oh Nikkei

Nikkei kehilangan poin sangat besar sebanyak 10.6% hingga ditutup pada 8620 di hari Selasa (15/03). Indeks benchmark Jepang membukukan koreksi terbesar dalam dua hari sejak 1987, akibat laporan meningkatnya radiasi nuklir di dekat Tokyo. Kabar tersebut sontak memicu aksi jual besar-besaran. Mata uang Yen dan yield obligasi meningkat terkait tindakan investor menjual obligasi demi menutup kekalahan di pasar saham. "Fokus saat ini berada pada krisis nuklir. Saat krisis nuklir memburuk, investor asing dan perusahaan pendanaan lokal akan menghindari saham Jepang," demikian pandangan Hideyuki Ishiguro dari Okasan Securities, Tokyo. Sementara saham Tokyo Electric Power tidak diperdagangkan hari ini. Terakhir saham diperdagangkan pada level 1,221 meski tidak ada pembelian di level tersebut.

Uranium Dan Saham Nuklir Rasakan Shock dari Fukushima


Sepertinya setiap dan seluruh saham yang berkaitan dengan energi nuklir telah ditandai dengan huruf merah. Dijauhi oleh investor pada hari Senin di tengah kekhawatiran bahwa krisis nuklir yang terjadi di Jepang, Sebagian reaktor meledak dan meleleh turun setelah gempa bumi dan tsunami menghebohkan berikutnya kapasitas pendinginan yang rusak, saham dari penambang uranium untuk desainer generator untuk pembangun pabrik telah menduduki puncak tangga lagu untuk pecundang terbesar . Dalam jangka panjang, meskipun, prospek industri terlihat manis. Membeli kesempatan?

"Pada sekitar 11:01, sebuah ledakan diikuti dengan asap putih terjadi di gedung reaktor Unit 3. Hal ini diyakini ledakan hidrogen, "melaporkan Tokyo Electric Power Company, yang mengoperasikan pabrik Fukushima yang memiliki perhatian dunia sejak gempa 9,0 skala besar belur Jepang pada hari Jumat. Membawa kembali hantu Chernobyl dan Three Mile Island, investor telah memutuskan untuk menghindari energi nuklir di tengah kekhawatiran bahwa kecelakaan saat ini dapat menempatkan noda pada apa yang tampaknya menjadi tren booming di energi bersih.

Kompleks seluruh energi nuklir sedang clobbered pada hari Senin, dengan saham banyak mengalami kerugian di atas peremajaan, beberapa bahkan melewati tanda 20%. Cameco, produsen terbesar di dunia uranium dengan 16% dari pasar menurut perkiraan sendiri, adalah salah satu saham yang paling representatif dan paling banyak diikuti dalam kelompok. Oleh PM 1:48, itu turun 13,3% menjadi $ 32,29. Uranium tidak diperdagangkan di bursa, sehingga sulit untuk memantau harga-dampak, tetapi dua ETF's pelacakan sektor secara keseluruhan, Global X Uranium ETF (URA) dan Pasar Vektor 'Nuklir & Uranium ETF (NLR) turun 17,9 % dan 13,7% masing-masing.

Dengan berbagai proyek di Asia dan Amerika Serikat, Shaw Group tanking, turun 18,9% menjadi $ 31,78. Dalam nuklir, Shaw Group bergerak dalam perancangan pabrik, konstruksi, dan servis, dan telah mengumumkan bahwa "[mereka] tidak percaya akan ada dampak terhadap proyek nuklir Shaw sedang dibangun di Amerika Serikat dan Cina," presiden menurut dan CEO JM Bernhard.

General Electric, yang dirancang reaktor Jepang di pertanyaan menurut Journal, juga mengambil hit. Energi nuklir divisi perusahaan, perusahaan patungan dengan Hitachi konglomerat Jepang, belum merilis pernyataan resmi pada situasi. GE, dipimpin oleh Jeff Immelt, melihat penurunan moderat, relatif, dalam harga sahamnya, perdagangan turun 4,1% menjadi $ 19,53.

Exelon, nama utilitas yang merupakan operator terbesar pembangkit listrik tenaga nuklir di AS, merasa menyengat juga. Sahamnya turun 2,3% menjadi $ 42,15.

US penambang kecil seperti Uranium Sumber dan Denison Pertambangan tidak bernasib lebih baik. Setelah mendapatkan mahal pada paruh kedua tahun 2010, sebagai suatu kepentingan dalam uranium mengambil, the-SMP penambang telah turun lebih dari 20% selama sesi, dengan Uranium Resources turun 26,9% menjadi $ 1,70 dan Denison menurun 23,4% menjadi $ 2,52.

Dengan diskusi keamanan kembali ke meja, investasi di uranium dan energi nuklir lagi pada goyah. Pasar uranium secara besar-besaran volatile, yang mengalami gelembung besar pada tahun 2007 dimana harga tembakan sampai $ 137 per pon dan turun ke $ 45 dalam hitungan bulan, telah memiliki banteng berjalan pada apa yang disebut analis fundamental. Bergerak menuju energi bersih telah meletakkan tekanan permintaan pada pasar supply-kekurangan, dengan China mengambil permintaan-lead. Angka-angka berbeda pada setiap laporan, tetapi menurut Badan Energi Internasional, Red Dragon jumlah dengan 11 reaktor aktif, 20 dalam pembangunan, dan rencana untuk sekitar 120 lebih yang akan dibangun dalam waktu dekat. Menurut Bloomberg, pihak berwenang Cina akan melanjutkan pengembangan energi nuklir mereka, sebagai presiden negara yang didukung China National Nuclear Corp, Sun Qin, kepada wartawan di Beijing. (Baca Lupakan Gold dan Oil, Beli Uranium!).

pagi JP Morgan "robek lembaran" mengutip laporan mengklaim bahwa "slide baru dalam uranium sekitar 6% adalah hasil dari profit taking, bukan pembalikan uptrend jangka panjang. Membantu uranium adalah kenyataan bahwa Cina hampir tidak memiliki cukup persediaan untuk memenuhi setengah kebutuhan saat ini. Uranium juga memiliki pembatasan pertambangan di beberapa negara karena digunakan untuk senjata nuklir, yang membantu menjaga pasokan di cek. "

Dan sementara sektor lain kompleks energi, seperti gas alam dan minyak tampak diatur untuk keuntungan dari jatuh dari kasih karunia bahwa uranium menghadap, situasi di Jepang telah menciptakan suatu titik perubahan di pasar. Investor harus menentukan apakah kemunduran saat ini cukup untuk menggagalkan bergerak menuju nuklir, atau jika kepercayaan dari raksasa seperti China akan sekali lagi meningkatkan pasar babak belur.

The Yen Has No Reasons To Strengthen

Japan EarthquakeThe reaction within the currency markets on Friday to the tragic events in north-eastern Japan was an understandable one. After an initial knee-jerk sell-off in the yen as the news first broke, the Japanese unit climbed rapidly through the course of the day as investors talked of capital repatriation and, more generally, about the unwinding of JPY-funded carry trades.

However, as I have considered the topic further over the course of the weekend, I've come to suspect that this JPY [JPY=X  81.62    -0.05  (-0.06%)   ] strength may, itself, prove short-lived.
The first issue I have is with the comparisons being made between the Kobe earthquake and the events of this weekend. As tragic as the Kobe earthquake was (over 6,400 people were killed), it was still a relatively localized event. This time around the situation has been complicated by the subsequent tsunami.


Certainly the initial estimates of the cost of the disaster are that it will be at least as high as that of Kobe. With the nuclear emergencies in Fukushima complicating the situation further (rolling electricity blackouts are expected across the country in the coming weeks), there can be little surprise that Prime Minister Naoto Kan told a press conference: "This is the worst disaster Japan has faced since the Second World War."
All this comes in the aftermath of a fresh contraction in the economy in the fourth quarter of last year and at a point where Japan is already carrying a debt burden equivalent to roughly 200 percent of its GDP.
Indeed, it is worth remembering that it is only a matter of weeks ago since Standard & Poor's cut Japan's sovereign debt rating by one notch to AA- (the first cut since 2002), saying that the government lacked a "coherent strategy” for dealing with its growing debt burden. 

Negative Fiscal Picture

Given that (entirely sensibly) the government will likely announce emergency spending to fund rescue and clean-up efforts and to resuscitate the economy, it seems reasonable to suppose that the current plans to balance the state's books will be pushed back even further out. 

With this hugely negative fiscal picture being matched by the fresh quantitative easing measures announced by the BOJ overnight, the JPY is starting the week facing the prospect of looser fiscal and monetary settings. As such it is difficult to make an argument in favor of currency strength. 

Indeed, given that any sustained recovery in Japan's economy is likely to be export-led, it seems reasonable to suppose that the Japanese government would be grateful for this one small piece of relief. It was therefore hardly surprising when Finance Minister Noda made his feelings clear on this matter Monday morning.
A person who is believed to be have been contaminated with radiation

All of this brings me to the broader situation that investors face at the start of this week. In addition to the disaster that has hit Japan (and the ongoing nuclear emergency), they also face what must be seen as a less than satisfactory outcome to the euro zone summit, the threat of a U.N -led no-fly zone being imposed over Libya and continued political uncertainty in the Middle East. It therefore seems likely that in the face of the multiple stories, the most logical outcome will be a broad retreat from risk. 

Given that the USD has been the primary funding vehicle of choice over the past year, it seems reasonable to suppose that it should ultimately prove one of the prime beneficiaries of the events of the past few days.

Uni Eropa Janjikan Tambahan Bailout

Menteri-menteri keuangan zona Eropa pada hari Senin (11/03) memberi sinyal kesepakatan untuk menaikkan jumlah dana bantuan minggu depan. Namun lembaga pemeringkat Fitch Ratings memperingatkan bahwa langkah tersebut tidak cukup untuk menangani krisis hutang Eropa. Pasar keuangan bereaksi positif terhadap sinyalemen ini, karena menambah peran dana bantuan EFSF serta mengurangi syarat bantuan untuk Yunani. Meski demikian, terlihat masih ada keraguan tentang sejauh mana kesepakatan dapat diimplementasikan. Fitch menilai langkah pembiaran mekanisme temporer (EFSF) dan dana permanen masa depan (ESM) untuk pembiayaan obligasi sangat membantu sementara ini. Akan tetapi, hal itu tidak dapat meredam kecemasan yang memicu aksi jual obligasi pemerintah dalam satu tahun. Proposal bantuan Eropa masih harus mendapat persetujuan pada pertemuan Uni Eropa selanjutnya tanggal 24-25 Maret. Resiko terbesar adalah keluarnya reaksi politik dari Jerman.

HSI Pecah di Bawah 23000, Picu Bearish Lanjutan

Secara teknikal dari indikator MACD mengindikasikan tekanan bearish masih terjadi pada indeks Hang Seng (HSI), terutama karena terseret oleh bursa Jepang yang anjlok hingga dibawah psikologis 23000 akibat kekhawatiran terhadap bocornya reaktor nuklir.
 
Indeks bila berhasil tembus di bawah 22800 akan melanjutkan outlook bearish menuju 22500 hingga 22300.
 
Sementara untuk bias bullish Hang Seng, indeks ini harus berupaya melewati psikologis 23000 untuk memberikan konfirmasi bullish lanjutan menuju 23080 hingga 23200 sesuai dengaa arah dari indikator stochastic yang tengah up-trend.
 
 
 
Resistance Level : 23080, 23200, 23320
Support Level       : 22800, 22500, 22300
Trading Range       : 22300 – 23000

Ledakan ke - 4

Nikkei (bursa utama Jepang) merosot tajam di hari Selasa, anjlok hingga lebih dari 620 poin untuk indeks benchmark (Nikkei 225), sementara Nikkei futures (SSIc1) merosot tajam hingga lebih dari 1300 poin ke kisaran level 8100.
Tumbangnya bursa Jepang ini terkait dengan berita ledakan yang terjadi pada reaktor nuklir no.4 dikawasan komplek nuklir Fukushima, Daiichi Jepang.
Operator nuklir setempat mencatat ledakan ini akibat tingginya level readiasi hingga taraf 9 kali level normal biasa. Sementara saat ini juga masih diupayakan untuk mendinginkan tiga reaktor (reaktor 1, 2 dan3) agar tidak terjadi hal yang sama dengan cara terus memompa air laut ke sistem pendingin reaktor tersebut.

Hangseng Today

Setelah dibuka dengan gap-down, indeks Hang Seng kembali tumbang hingga dibawah level psikologis 23000, terutama karena terseret oleh bursa Jepang yang anjlok akibat kekhawatiran terhadap bocornya reaktor nuklir.
Secara teknikal dari indikator MACD mengindikasikan tekanan bearish masih terjadi pada indeks. Dan bila harga pecah ke bawah 22800 akan melanjutkan outlook bearish menuju 22500 hingga 22300.
 
Sementara untuk outlook bullish Hang Seng, indeks ini harus berupaya melewati psikologis 23000 untuk memberikan konfirmasi bullish lanjutan menuju 23080 hingga 23200 sesuai dengaa arah dari indikator stochastic yang tengah up-trend.
 
 
 
Resistance Level : 23080, 23200, 23320
Support Level       : 22800, 22500, 22300
Trading Range       : 22300 – 23000

Nikkei Tenggelam Setelah Ledakan ke 3

Bursa Jepang menuju kejatuhan awal minggu hari Selasa, saat diperdagangkan di awal perdagangan.
Indeks rata-rata Nikkei merosot lebih jauh setelah kejatuhan terbesarnya sejak krisis keuangan 2008 sehari sebelumnya saat Jepang berusaha menghindari bencana ketika kejatuhan sumber daya energi mengancam ekonomi lebih besar daripada yang diperkirakan.
 
Indeks Nikkei jatuh 4.8% ke harga 9,154.4 poin saat pembukaan. Indeks Nikkei kehilangan 6.2% dan ambruk ke rendahnya selama 4 bulan hari Senin. Indeks Topix turun 5.6% ke 799.2.
 
Saham-saham yang berkaitan dengan nuklir dan perusahaan-perusahaan blue-chip terpukul saat adanya pemutusan energi.
Ledakan baru terdengar hari Selasa saat gempa susulan ke 3 di area fasilitas nuklir terjadi, dikatakan badan keamanan nuklir Jepang.

Hang Seng Jauhi Level Rendah

Hang Seng dibuka melemah mengikuti pelemahan Nikkei, terkait imbas dari bencana alam yang melanda Jepang namun pelemahan tampaknya tidak terlalu besar.
Diperkirakan hanya saham baja, semen dan batu bara saja yang terkena imbas," menurut DBS Vickers. Secara terpisah, trader lokal mengatakan pasar Hong Kong "berperforma cukup baik" di tengah kekhawatiran mengenai  pengetatan di Cina, melambungnya harga minyak, dan permasalahan hutang di zona Eropa. HSI naik di delapan dari 12 sesi terakhir. Saham Ping An merosot.
HSI menjauhi level rendah dan ditutup naik 0.4% di 23,345.88 hari Senin.

Bursa Cina Lesu

Bursa Cina melemah akibat kekhawatiran menurunnya pertumbuhan pendapatan akibat melambatnya ekonomi, menurut Li Xiaoxuan, analis Shenyin Wanguo Securities.
Analis mematok support terdekat untuk Indeks Shanghai Composite di 2900, setelah kemarin indeks ditutup naik 0.1% di 2937.63. "Pasar tampaknya terbebani oleh melambatnya perekonomian dan meningkatnya ketidakpastian di luar negeri," menurut Li. Ia menambahkan gempa Jepang diperkirakan berimbas ke pasar untuk jangka pendek, dan tampkanya tidak akan berubah untuk jangka menengah. I
ndeks Shenzhen Composite naik 0.9% menjadi 1310.99 di hari Senin.

Cemaskan Dampak Bencana

Saham Seoul dibuka lebih rendah di hari Selasa karena investor masih bersikap waspada mengenai kerusakan yang timbul akibat gempa dan tsunami yang melanda Jepang
 
"Pasar masih lemah. Perhatian tertuju pada Jepang terkait kecemasan investor mengenai kerusakan lebih lanjut," menurut Lee Kyoung-su, seorang analis pasar di Taurus Investment & Securities. Lee menambahkan bahwa saham di sektor yang dapat keuntungan dari terganggunya produksi di Jepang, seperti penyulingan dapat melanjutkan reli mereka. Kilang minyak seperti S-Oil dan SK Innovation melambung masing-masing 13% dan 6,7%. Produsen chip Korea Selatan dan produsen baja juga reli karena prospek terganggunya pasokan dari perusahaan di Jepang. Namun saham pembangkit listrik tenaga nuklir diantaranya KEPCO Engineering & Construction kemungkinan melemah pasca ledakan fasilitas tenaga nuklir di Jepang.

Indeks Korea Composite Stock Price Index (KOSPI) berakhir naik 0,8% di 261.70 di hari Senin.

Krisis Nuklir Jepang

Nikkei masih terus melemah di hari Selasa setelah sempat mengalami penurunan terbesar sejak krisis keuangan tahun 2008 sehari sebelumnya terkait usaha Jepang untuk mencegah bencana nuklir. Sementara kurangnya pasokan energi mengancam perekonomian.


Pelemahan diprediksi terbatas dikisaran 100-200 terkait banyaknya aksi jual di hari Senin dengan nilai perdagangan sebesar 23.5 trilyun yen dan beberapa pemain pasar yang melakukan pembelian di level rendah atau menerima hak dividen menjelang akhir tahun bisnis pada 31 Maret. Analis mengatakan investor lebih memilih untuk tetap menjual saham terkait saham yang berhubungan dengan nuklir dan perusahaan blue-chip mengalami tekanan akibat pemadaman listrik. Takahashi mengatakan untuk jangka menengah pasar kemungkinan akan mendekati level 9.000. Para analis mengatakan Nikkei kemungkinan akan diperdagangkan antara 9.000-9.400 pada hari Selasa.

Indeks Nikkei turun 6,2% dan merosot ke level terendah 4 bulan di hari Senin, dengan perusahaan teknologi seperti Kyocera Corpdan Canon Inc mengalami kemerosotan terbesar di pasar.

Gold down

Emas bergerak turun hari Selasa bersama melemahnya bursa saham yang dipicu oleh gempa yang terjadi minggu lalu di Jepang memicu para spekulan untuk menjual emas guna menutup kerugian, sementara kepemilikan di ETF merosot ke level terendahnya sejak bulan Mei tahun lalu.
Spot emas kehilangan $2.50 per ons ke $1,424.15 per ons, setelah naik sebanyajk 1% hari Senin bersama usaha Jepang yang berusaha menghindari dampak buruk nuklir setelah gempa dan tsunami dan ketegangan politik di wilayah Arab.
Kontrak emas AS untuk bulan April nyaris tidak bergerak di $1,424.3 per ons.

Senin, 14 Maret 2011

Gold today

Pergerakan harga emas pada grafik 4-jam saat ini terlihat tengah menguji area resistance dikisaran 1428.49. Pecahnya area resistance tersebut, berpeluang memicu terjadinya penguatan lanjutan menuju area 1434.53 hingga area 1444.30. Sementara itu, stochastic dan CCI yang sudah berada  dalam area overbought berpeluang memicu pergerakan bearish menuju area 1418.71 hingga 1412.67 jika resistance mampu bertahan.

Gold: Lanjutkan Rally

Emas menguat seiring investor buru aset safe-haven di tengah memburuknya dampak gempa Jepang dan meningkatnya kekerasan di Timur Tengah. "Berlanjutnya gejolak di Timur Tengah dan Afrika, serta buruknya kondisi Jepang paska gempa akan buat emas tetap bersinar," ungkap Gavin Wendt, analis MineLife. Sepuluh dari 16 trader, investor, dan analis yang disurvei Bloomberg utarakan emas akan reli minggu ini; empat prediksi penurunan, dan dua netral.

Gempa 8,9 skala Richter mengguncang Jepang, dan picu tsunami hingga tewaskan 10.000 manusia. Pekerja tengah perjuang mencegah krisis nuklir setelah ledakan hidrogen guncang reaktor nuklir di sebelah utara Tokyo. Kerusuhan Afrika Utara dan Timur Tengah, yang telah gulingkan pemimpin Tunisia dan Mesir, telah capai Arab Saudi, Yaman, Oman, dan Bahrain. Di Libya, Muammar Qaddafi kini berjuang pertahankan kekuasaannya.

“Upaya membangun kembali ekonomi Jepang dapat lemahkan dollar, sehingga bantu tingkatkan permintaan emas,” ungkap Ong Yi Ling, analis Phillip Futures. "Perusahaan asuransi Jepang mungkin mulai menjual aset dollar-nya untuk bayar klaim bencana. Ini bisa berkontribusi pada lemahnya dollar AS dan dongrak permintaan emas."

3 Emiten Asia Rawan Kerugian Besar

Tokyo Electric Power Co, Toshiba Corp, East Jepang Railway Co, dan Shin-Etsu Chemical Co, adalah jajaran perusahaan yang mungkin terkena dampak paling besar akibat gempa dahsyat yang melanda Jepang, dikatakan para analis dan investor. Tokyo Electric, yang berjuang untuk menghindari kebocoran di fasilitas nuklir Fukushima, menghadapi besarnya biaya pembangunan dan usaha nuklir Toshiba mungkin akan menghadapi pemeriksaan lebih ketat, dikatakan Minoru Matsuno, direktur utama dari Value Search Asset Management Co di Tokyo.

Suntikkan $86 Juta

Di tengah bencana alam, pemerintah Jepang tetap memberi perhatian lebih pada sektor keuangan dalam negeri. Bank sentral siap menyuntik 7 triliun Yen ($86 juta) ke dalam pasar uang jangka pendek.

Kebijakan Bank of Japan dilakukan untuk menstabilisasi sistem finansial pasca musibah besar. Bank sentral akan mengadakan pertemuan kebijakan moneter hari Senin guna mendiskusikan cara perlindungan ekonomi lebih lanjut.

Gubernur Masaaki Shirakawa mengatakan hari Minggu bahwa pihaknya siap melakukan apapun untuk mengantisipasi gangguan tenaga listrik. Beredar kecemasan bahwa minimnya sumber tenaga akan meruntuhkan sistem finansial perbankan Jepang. Namun pemerintah menyatakan bahwa sektor perbankan adalah salah satu prioritas penanganan pasca gempa.

Asian markets down

Saham Asia dibuka melemah pada hari Senin karena investor mencari detail lebih lanjut tentang dampak dan biaya yang ditimbulkan akibat gempa dan tsunami, dan juga krisis nuklir yang melanda Jepang.
Bursa Saham Tokyo, bursa terbesar di Jepang, dan Bursa Efek Osaka mengatakan bursa akan buka seperti biasa. Bank of Japan juga telah mengatakan akan beroperasi secara normal, dan berjanji akan menyediakan likuiditas yang besar untuk membantu pasar agar stabil.
Saham berjangka Jepang turun 3,3% di hari Jumat setelah gempa besar mengguncang timur laut Jepang, namun pemain pasar mengatakan pelemahan saham mungkin tidak terlalu dalam karena kota besar dan fasilitas manufaktur tidak terkena gempa dan tsunami.